July 15, 2008

Jadi Caleg?

Ternyata aku terkena imbas dari adanya UU Pemilu No.10/2008. Hehe, ada salah satu parpol peserta Pemilu yang menawari aku jadi caleg. Biaya pendaftarannya gratis pula. Sayangnya aku blas ga minat terjun ke ranah politik praktis. Aktif di parpol aja ogah, apalagi jadi caleg. Aku benar-benar ga interest.

Dengan adanya tawaran itu, aku menjadi semakin yakin kalo kader-kader perempuan di parpol itu sangat minim. Sampai caleg perempuan aja ditawar-tawarkan kayak gitu. UU No. 10 memang berat bagi parpol. UU tersebut mengharuskan keberadaan perempuan dalam struktur partai. Aku yakin syarat ini masih bisa dipenuhi oleh parpol-parpol walau kebanyakan perempuan hanya didudukkan di lembaga, bukan di struktur inti parpol.

Syarat yang menurutku susah dipenuhi oleh parpol ya masalah caleg perempuan. UU Pemilu memberikan kuota 30% untuk caleg perempuan. Mencari perempuan yang mau jadi caleg tentu saja susah banget. Berapa banyak sih perempuan yang syahwat politiknya cukup tinggi. Ketika kran partisipasi politik bagi perempuan sudah dibuka sedemikian luas, tapi tetap saja perempuan tidak bisa memanfaatkannya. Inilah PR besar bagi parpol-parpol. Mereka seharusnya dapat membina kader-kader perempuan di partainya untuk ga segan-segan berbasah kuyup dalam kancah politik praktis. Dengan demikian caleg perempuan bukan lagi menjadi sesuatu yang langka.

                            

Politik 'Kampung'an

Ini adalah cerita tentang masyarakat di suatu kampung yang sedang belajar demokrasi. Kampung tersebut berada sangat dekat dengan pusat kota Jogja, hanya berjarak 500 meter dari Malioboro. Sebagian penghuninya adalah suku Jawa dan sebagian lainnya adalah etnis Cina. Kesenjangan sosial di kampung tersebut cukup tajam. Agama, tingkat pendidikan, dan pekerjaan juga cukup beragam. Pun dengan pilihan politiknya. Angka golput juga masih cukup tinggi. Belum lama ini masyarakat di kampung tersebut mencoba belajar demokrasi dalam event pemilihan pengurus RT dan RW.

Jauh hari sebelum hari pemilihan, di seluruh penjuru kampung sudah banyak perbincangan mengenai siapa saja yang akan dicalonkan menjadi 'pejabat' RT dan RW. Dari ibu-ibu yang suka ngerumpi, para jamaah pengajian, hingga tukang judi dan minum yang cukup berkepentingan agar tempat mangkalnya tidak tergusur, ramai membicarakan topik ini. Hanya masyarakat etnis Cina yang cuek dengan event tersebut. Mungkin mereka terlalu sibuk mengurusi bisnisnya. Hari pemilihan 'pejabat' 5 RT di suatu RW di kampung tersebut berlangsung dalam waktu hampir bersamaan. Dari ke-5 RT, ada 1 RT yang pemilihannya berlangsung cukup 'panas'. Kalau di RT lain kasusnya adalah tidak ada warga yang mau dicalonkan sebagai ketua RT, di RT ini lain ceritanya. Berikut kronologisnya.

Belajar dari pengalaman pemilihan RT yang lalu dengan panitia pemilihan yang serba mendadak, dibentuklah panitia pemilihan RT 'jauh' hari sebelum hari pemilihan (hehe...jauh di sini maksudnya 3 hari sebelumnya). Dengan waktu yang cukup terbatas, panitia bergerak mempersiapkan semua perangkat untuk pemilihan. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari pedoman pemilihan RT. Proses ini ternyata tidak dengan mudah dilewati. Entah dilandasi kepentingan apa, pengurus RT menyembunyikan pedoman tersebut. Panitia pun tak kekurangan akal. Mereka mencoba hunting ke kampung lain. Yang dicari akhirnya didapat juga. Pedoman tersebut adalah berupa peraturan daerah, Perda Kota Yogyakarta No. 12 Tahun 2002 yang berisi tentang aturan pemilihan RT, RW, dan LPMK. Setelah memperoleh perda tersebut, rintangan yang dihadapi ternyata belum usai. Panitia kesulitan mencari berapa jumlah pemilih sebenarnya. Berdasarkan Perda, RT dibentuk melalui musyawarah para Kepala Keluarga (KK). Pengurus RT tidak mau memberikan data daftar KK kepada panitia. Tidak cukup sampai di situ saja, panitia masih harus menghadapi berbagai intervensi dari ketua RW. Berbekal minimnya data dan berpedoman pada Perda, panitia menjalankan tugasnya. Hari pemilihan pun tiba.

Malam hari saat hari pemilihan, warga berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Malam itu dilangsungkan musyawarah mengenai cara pemilihan yang akan digunakan untuk memilih 'pejabat' RT. Disepakati bahwa tiap KK yang diwakili oleh 1 orang harus memilih 3 nama dari daftar nama calon yang telah diusulkan sebelumnya. Urutan 1,2,3 suara terbanyak secara berturut-turut akan menjadi ketua, sekretaris, dan bendahara RT periode mendatang. Berdasarkan Perda No. 12 Tahun 2002, seseorang dapat menjadi pengurus RT hanya selama dua periode berturut-turut. Berpedoman pada Perda tersebut, musyawarah warga menyepakati bahwa jika yang mendapat suara terbanyak adalah ketua RT sebelumnya yang notabene sudah dua periode menjabat sebagai ketua RT, maka yang menjadi ketua RT adalah yang mendapat suara terbanyak kedua. Semua proses berlangsung lancar tanpa ada protes sedikitpun hingga proses pemilihan dimulai. Ketua RT sebelumnya mendapat suara terbanyak. Maka yang menjabat sebagai ketua RT periode mendatang mulai awal Agustus adalah yang mendapat suara terbanyak kedua. Pemilihan selesai, warga pun pulang.

Tidak ada keganjilan apapun kecuali pada jumlah warga yang mengaku punya hak suara. Diketahui bahwa jumlah KK RT tersebut adalah 47, dan yang mengisi daftar hadir ternyata ada 56, yang 9 ini patut dipertanyakan. Ada orang yang jelas-jelas sudah pindah domisili dari RT tersebut datang untuk memilih. Yang lainnya adalah karyawan-karyawan suatu toko kaca yang jelas-jelas tidak berdomisili di RT itu. Selain itu, ada juga TKW yang entah dari mana asalnya, juga ada keluarga-keluarga yang baru saja pindah ke kampung itu yang tentu saja belum mempunyai Kartu Keluarga. Warga pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mempunyai daftar KK. Penggelembungan suara ternyata tidak hanya terjadi saat Pemilu atau Pilkada saja. Apakah ini cermin asli bangsa Indonesia? Atau jangan-jangan rakyat sudah terinfeksi virus-virus yang disebarkan para politikus busuk. (Hehe tikus emang sudah busuk, kalau banyak tikus tambah busuk dong!)

Dua hari setelah pemilihan, ketua RT yang merasa tidak puas karena posisinya tergusur, bersama beberapa orang lainnya dan ketua RW berunjuk rasa di kelurahan. Oleh pak Lurah disarankan agar masalah tersebut diselesaikan dengan jalan musyawarah. Benar saja, beberapa hari kemudian dilangsungkan musyawarah yang dihadiri oleh panitia pemilihan, pihak yang merasa tidak puas, jajaran pengurus RW, dan juga seluruh pengurus RT di wilayah RW tersebut. Dalam undangan tercantum yang mengundang adalah ketua dan sekretaris RW. Dan tanda tangan sekretaris RW ini diduga kuat dipalsukan. Lha mirip saja enggak. Masalah 1 RT tapi yang bahas bukan warga RT tersebut. Jadilah forum tersebut forum berseteru antara ketua RT yang dibela oleh ketua RW dan ketua RT terpilih yang dibela oleh panitia, sementara yang lain hanya sebagai penonton. Hasil pertemuan itu adalah ketua RT sebelumnya tetap menjabat sebagai ketua RT untuk setengah periode dan ketua RT terpilih akan melanjutkan periode setengahnya. Ternyata muara dari semua permasalahan tersebut adalah pemilihan RW! Ketua RW berusaha menyetir seluruh pemilihan RT di wilayahnya agar ia dapat terpilih kembali menjadi ketua RW! Apa untungnya menjadi ketua RT dan RW? Apa kepentingannya? Hanya mereka yang benar-benar tahu. Hanya mereka yang tahu penyimpangan apa saja yang sudah mereka lakukan. Dari penyalahgunaan bantuan Pemkot, keharusan membayar untuk mengurus KTP, KK, dan surat-surat lainnya, kemudahan mendapatkan KK untuk orang-orang yang ga jelas (warga Timor Leste, TKW, warga ga tetap, kumpul kebo, etc), berlagak bak preman yang dibayar orang untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang lain, dan banyak lagi. Bagaimana kampung bisa aman kalau 'pejabat' RT dan RWnya seperti itu? Yach, dasar politik kelas kampung yang kampungan banget.

June 09, 2008

Ga Penting Apa Makanannya

Suatu siang di lab rekayasa, ada obrolan ringan mengenai alergi antara aku, Danu adik tingkat yang lagi penelitian di lab reka, dan pak Rachmat sang teknisi. Danu sudah menderita alergi semenjak ia kecil. Lain halnya dengan aku yang baru 6 tahun ini merasakan repotnya menghadapi alergi. Sedangkan pak Rachmat ga punya pengalaman menghadapi alergi. Aku dan Danu ternyata sama-sama menderita lebih dari 1 alergi. Bedanya Danu sudah menjalani tes alergi sehingga tahu benar apa saja alerginya, sedangkan aku sama sekali belum pernah. Bukannya aku ga mau, tapi males aja ke dokter. Aku males debat ma dokter dan males minum obat. Ginjal ma liverku bisa kalah dicekoki obat terus-terusan.

 

Danu bercerita bahwa dia alergi dengan debu, makanan, dan obat-obatan tertentu. Tidak hanya alergi pada 1 jenis makanan, tetapi berbagai macam jenis makanan. Sedangkan aku, 3 tahun lalu dokter menduga aku alergi terhadap MSG setelah aku melaporkan observasiku selama berbulan-bulan. Aku juga alergi dengan salah satu jenis antibiotik, dan bahan kimia tertentu. Mengenai alergi bahan kimia, sementara masih dalam dugaanku saja. Yach, sebuah roti kering telah membuat lidah dan tenggorokanku menjadi tak karuan. Entah senyawa kimia apa yang terkandung dalam roti itu.

 

Mengenai alergi terhadap makanan, aku sepakat dengan Danu bahwa solusinya bukan dengan menghindari makanan penyebab alergi. Terlalu strict dengan apa yang akan dimakan hanya buat capek. Aku ga mungkin selalu menghindari MSG. Apalagi ketika beraktivitas di luar rumah. Pilihanku hanya ada dua, memprotek diri dari makanan yang mengandung MSG sehingga ga jadi makan dengan resiko maagku kambuh atau sembarangan makan dengan resiko alergiku kambuh. Dan aku lebih memilih opsi yang terakhir. Daripada aku mual sepanjang hari, ulu hati berasa seperti kram, pusing, dan bisa muntah darah, mending alergiku aja yang kambuh. Toh ga jelas juga apa manifestasinya. It's a challenge. Nikmati aja apa yang akan terjadi. Daripada stress mikir mo makan apa, apapun makanannya dimakan aja.  Kalo alerginya parah ya kepaksa minum obat. Kalo ga parah ya biarin aja deh. Syukur-syukur ga kambuh alerginya. So ga lagi penting apa makanannya.

May 29, 2008

It's About My Interest

Tiap orang pasti punya interest yang berbeda-beda. Begitu juga aku. Menurutku, interest itu bisa berubah-ubah. Ini sesuai dengan pengalaman pribadi loh. Yach, selama beberapa waktu ini aku merasa banyak banget yang berubah dalam hidupku, termasuk masalah interest ini. Ternyata semuanya berhubungan dengan cara kita mengekspresikan perasaan. Ketika aku kehilangan tempat yang biasa aku gunakan utuk mengekspresikan perasaan, aku pun kacau banget. Aku butuh tempat berkspresi! Aku kemudian berusaha mencari penggantinya. Mencari wahana yang bisa aku gunakan untuk mengekspresikan seluruh perasaan dan jiwaku. "Apa gunanya hidup tanpa bisa berekspresi?", pikirku saat itu.

Aku kemudian menekuni hobi lamaku, membaca. Yach, dengan membaca aku merasa menemukan dunia lain yang diciptakan oleh si penulis buku. Tapi itu semua tak lebih seperti air yang ditumpahkan ke gurun pasir, menghilang dalam sekejap. Jiwaku masih saja meletup-letup. Rasaku ingin terbuncah keluar. Ragaku tak sanggup lagi membendungnya. "Aku butuh tempat berekspresi!", teriakku dalam hati. "Huh, untuk teriak aja ga bisa", batinku sebal. Saat kesal membelenggu diri, tiba-tiba mataku terpaut pada sebuah kertas tipis di atas meja komputerku. Sebuah pembatas buku berwarna hitam, produk eksklusif dari Rifka Annisa. Di atasnya tercetak huruf berwarna-warni nan berderet rapi, gradasi warna hijau dan merah. "STOP SILENT, TELL WHAT TOU FEEL". Begitulah bunyi deretan huruf itu. "Benar juga!", pikirku. Aku ga boleh diam terus, aku harus mengatakan apa yang aku rasakan! Otakku berputar kencang. Aku bukan orang yang mampu menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku pikir dengan kalimat verbal yang tertata dengan baik dan rapi. Kadangkala kemampuan verbalku diuji. Yeah, suatu kesempatan bagus untuk melatihnya. Tapi tetap saja itu semua tak dapat menampung seluruh ekspresi jiwaku. "Aku butuh sesuatu yang lain", aku meyakinkan diri. Toh ekspresi tidak harus diverbalkan.

Karena sering membaca majalah mode, aku pun mulai interest dengan dunia mode, terutama desain. Aku mulai banyak mendapat inspirasi tentang desain-desain pakaian yang ready-to-wear dan pernak-perniknya. Buku kuno terbitan Amrik warisan nenekku turut menyumbang inspirasi ide yang cukup besar. Tapi, aku punya kendala. Aku bego banget masalah gambar. Aku kesulitan menuangkan ide-ideku ke dalam gambar. Walapun aku pernah mendapat juara III lomba gambar tingkat SD se-kecamatan, gambar-gambar desainku ga bagus. Entahlah kenapa dulu aku bisa mendapat juara. Beberapa saat yang lalu (sebelum gedung SDku direnovasi), gambar yang aku buat 11 tahun yang lalu itu masih terpajang di dindingnya. Sebuah gambar yang melukiskan prajurit kraton yang menandu gunungan, sementara banyak orang sudah menantikan untuk memperebutkannya. Gambar yang aku buat dengan lembur selama semalam itu dibingkai dengan kayu yang divernis mengkilat, digantung di dinding SDku selama bertahun-tahun. Benar-benar ga nyangka sebegitunya guru-guruku menghargai karyaku. Ironis banget dengan aku yang saat ini merasa ga bisa gambar!

Walau punya kendala untuk menuangkan ide ke dalam gambar, aku tetap interest dengan dunia desain. Tapi kali ini beralih ke dunia bead-art. Aku beli buku-buku yang berkaitan dengan bead-art. Aku juga mulai hunting desain pernak-pernik dari bead yang paling baru. Aku juga betah berjam-jam ngendon di toko yang menjual perangkat bead-art sekadar melihat desain bead keluaran terbaru, bead yang berwarna-warni, dan swarovski yang berkilauan. Sayangnya, hobi ini butuh ekstra money. Kebanyakan bead harus dibeli dengan batas jumlah gram tertentu. Kalau just hobi buat tapi males ngejual ya rugi deh. Apalagi kalau buat yang ga bisa dijual, tambah-tambah rugi bo'. Pada saat yang bersamaan aku mulai tertarik dengan japanese painting. Gara-gara keseringan baca komik kalee ya. Kalau interest yang satu ini just untuk dinikmati aja deh.

Aku merasa belum bisa mengekspresikan diriku. Karena itu, aku belajar menulis. Dengan dorongan beberapa orang, dipaksa keadaan, plus obsesi pribadi, aku mulai menulis. Aku belajar menuliskan semua hal yang memenuhi otakku, mengurainya perlahan, mencerabutnya sedikit demi sedikit hingga menjadi susunan kata-kata yang berjajar rapi dan seringkali aku ga pede menuliskannya. Jadilah blogku yang selama ini ga keurus dipenuhi oleh permainan kata-kataku. Anehnya aku jadi hobi mempermainkan kata. Hal yang selama ini aku tinggalkan dan dulu juga jarang aku lakukan, just keisengan kecil kala bete dengerin kuliah. Hasilnya pun ga ada yang aku simpan. Aku menganggapnya sekadar corat coret ga berarti. Aku seringkali membuangnya. Aku menumpahkan seluruh kekesalan, kesedihan, dan kemarahan dengan menjebak kata-kata dalam sebuah permainan. Dengan membuangnya, aku merasa kekesalan, kesedihan, dan kemarahanku ikut terbuang bersamanya. Saat ini aku tertarik lagi mempermainkan kata-kata. Mungkin memang itulah ekspresi jiwaku. Permainan kata-kataku ternyata membuat beberapa orang yang merasa cukup mengenalku shock. "Ga nyangka kamu bisa menuliskannya", begitulah rata-rata komentar mereka. Well, saat ini aku suka menulis. Apalagi sejak mendapat amanah mengurus berita web Nasyiah. Mau ga mau harus belajar menulis berita. Ketika sempat merasa ga mampu, aku berusaha meyakinkan diri. "Masa aku yang sedari kecil selalu berebut koran dengan bapak di pagi hari ga bisa nulis berita sih? Tiap hari aku kan baca berita!", yakinku. Jadilah saat ini aku sering menulis. Aku ingin suatu saat bisa menulis cerpen, novel, juga skenario. Sayang aja sudah ikutan pelatihan penulisan skenario. Hehe padahal ikutnya cuma sepintas lalu karena sembari ngurus posko banjir. Yach, untuk keinginanku yang ini, sepertinya aku harus meng-upgrade daya khayalku deh. Mungkin suatu saat nanti. Sekarang mending menulis apa yang memang harus aku tulis. Yach, paling ga untuk menyelesaikan kewajiban.

May 18, 2008

Berisik!!!

Episode malam susah tidur mulai lagi deh. Resiko punya rumah yang mepet ma jalan besar! Ya gini neeh kalo moge-moge memenuhi kota Jogja yang tenang dan damai. Jogja Bike Rendezvous bikin Jogja jadi berisik. Ga siang, ga tengah malam, suara deruman moge selalu menghiasi jalan-jalan kota Jogja. Silakan aja berkeliaran di Malioboro ampe Malioboro kala tengah malam jadi seperti pasar. Tapi please…jangan konvoi pas tengah malam dong! Aku pengin tidur nyenyak neeh!!!

May 17, 2008

Sensitif

Mempunyai indera yang sensitif adalah sebuah berkah. Ga percaya? Coba saja tanyakan ke Prof Mary Astuti. Dalam suatu kuliahnya, beliau pernah bercerita tentang seorang ahli sensoris teh yang bisa mendapatkan income yang sangat besar karena kesensitifitasannya terhadap teh. Akan tetapi, untuk menjadi sensitif bukan perkara yang mudah. Untuk dapat menjadi seorang ahli sensoris teh, diperlukan waktu selama 2 tahun untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth. Ternyata untuk melatih indra supaya jadi sensitif itu tidaklah mudah, perlu latihan berulang-ulang dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Yach, sebandinglah dengan income yang diperoleh. Seperti halnya ahli-ahli sensoris di berbagai industri yang masih membutuhkan indera untuk menguji produknya. Sensitif jenis ini bisa menurun tingkatnya ataupun hilang bila sakit atau tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama. Makanya harus sering-sering dilatih (kalo penggemar Conan pasti tahu cerita tentang ahli sensoris wine yang kehilangan kemampuannya karena kecelakaan motor).

Sebaliknya ada orang yang dikaruniai indera yang sensitif tanpa perlu latihan. Objeknya pun bermacam-macam. Bisa sensitif terhadap makanan, bahan kimia, udara, debu, bakteri, dsb. Sensitif jenis ini dikenal sebagai alergi. Banyak orang mengira bahwa alergi dapat timbul hanya karena ada penyebab alergi. Akan tetapi sebenarnya alergi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Faktor pencetus ini dapat menyulut terjadinya serangan alergi. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan, tertawa, menangis, berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan. Lagi-lagi faktor psikis berpengaruh terhadap kondisi fisik!

Sensitif jenis ini dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya karena alergi dapat menyerang semua organ atau sistem tubuh tanpa terkecuali dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk menimbulkan gangguan fungsi otak pada susunan syaraf pusat. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur. Alergi sangat misterius, bisa timbul berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya sesak selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Mengenai bagaimana keluhan yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi, ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Tidak mengherankan kalau penderita alergi sering stress menghadapi penyakitnya, seperti seorang ibu yang ketemu denganku waktu aku iseng ikutan tes darah. Ibu itu bilang kalau dia sudah capek dengan alerginya, bertahun-tahun tidak sembuh walau sudah berulang kali pergi ke dokter. Ibuku saja sampai harus terapi obat selama 2 tahun untuk menekan manifestasi klinis dari alerginya. Walau demikian, sensitif itu tetap berkah, sebuah karunia. Kata mbak Farkhul kalau kita ikhlas menerima penyakit kita, semoga itu bisa menjadi amalan kita. Apapun yang dikaruniakan kepada kita harus tetap disyukuri walau itu adalah karunia sakit. Lihat dari segi positifnya, positive thinking bo’!!!

Note : Bukan keinginanku  menjadi atopi. Tapi, ketika semuanya penyakit sudah datang, aku ga boleh menyerah gitu aja! Aku harus melawan kalo ingin menang. Aku harus bisa hadapi alergi MSG, tetracyclin, dan salisilat ini. Hidupku yang aku ga ngerti masih berapa lama lagi ini ga boleh disia-siakan hanya dengan larut pada penyakit-penyakit ini. Keep fight gals!

Speak English, Please!

Weekend yang lalu lagi-lagi harus dihabiskan di tempat kekuasaan 'jenderal' Bagyo dan 'jenderal' Widodo – Gedung Pusbang, Kaliurang. Kali ini acaranya adalah English Course Camp. Walaupun ga banyak yang bisa ikut tapi ga mengurangi esensi acara. Selain ada beberapa participant non English course student, fasilitator dosen-dosen dari English Department UAD, hadir pula English course teacher, Mr Kees dan Mrs Wendy yang native Aussie. Selama acara berlangsung, seluruh personel yang terlibat wajib bin kudu ngomong pake bahasa Inggris. Acara tersebut memang dikemas sebagai wahana belajar meningkatkan kemampuan ngomong Inggris teman-teman yang ambil kursus Inggris di PPM. Sampai kultum pun tetap harus pake bahasa Inggris. Semua peserta dilatih biar pede ngomong Inggris, ga peduli dengan grammar yang acak2an, vocab yang minim, pokoke belajar speak English.

 

Acara tersebut dibuka oleh headmaster Mr. Sayuti, dilanjutkan dengan taaruf dan kontrak belajar yang dipandu oleh fasilitator (standar banget kan?). Setelah itu dilanjutkan nonton film dan bakar jagung (yang ini asyik banget). Film yang dipilih untuk dikritisi malam itu adalah filmnya Will Smith, Pursuit of Happyness. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang perjuangan Chris Gardner untuk memburu kebahagiaannya. Satu kalimat yang aku ingat banget di film itu adalah ketika Chris Gardner bicara dengan his son, Christoper. "If you're happy, I'm happy." Yach, memang kebahagiaan itu bukan terletak pada diri kita sendiri. Tapi bahagia adalah ketika melihat orang yang kita sayangi bahagia. Hidup tersusun dari banyak bagian yang serupa potongan-potongan puzzle. Terserah bagaimana kita menyusunnya, bentuk apa yang kita susun, bagian mana yang kita inginkan untuk menjadi pondasinya. Apapun bentuk bangunannya, itulah hidup kita. Semua yang menentukan adalah diri kita. Begitulah pendapatku saat diskusi dengan teman-teman satu kelompok. Meski Linda, istri Chris Gardner telah meninggalkannya, Chris Gardner tak putus asa untuk tetap mendapatkan kebahagiaan. Hidup yang amat keras tidak membuat Chris Gardner berhenti berjuang. Film ini bagus untuk menumbuhkan semangat hidup agar jangan pernah menyerah meski sebentar saja.

 

Setelah diskusi film berakhir, Mrs Wendy memberikan challenge untuk semua participant. Challenge yang pertama adalah mencari padanan kata 'activist' dalam bahasa Inggris coz kata 'activist' mempunyai konotasi yang buruk. Kata aktivis sangat common bila digunakan di Indonesia, tapi di luar negeri tidak demikian. Challenge yang kedua adalah menerjemahkan assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh dalam bahasa Inggris. Challenge ini kemudian dijadikan homework. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan bakar jagung di halaman rumput. Lumayanlah untuk menghangatkan badan plus ngisi perut sebelum tidur. Hiks sayang, bumbu jagung bakar buat alergiku kambuh. Sepertinya itu bumbu banyak banget pake MSG sampe lidahku jadi belang-belang deh. Walau acaranya dikemas cukup santai, tapi tetap speak English lah yaw!

 

Keesokan harinya – Sunday morning – diisi dengan senam ringan plus jalan-jalan sampe tugu Kaliurang. Menghirup udara kaki gunung Merapi yang segar nan dingin sembari melemaskan kaki yang lama ga dipake untuk olahraga. Setelah sarapan, acara pun dilanjutkan kembali di aula. Kali ini acaranya adalah belajar dengerin lagu berbahasa Inggris dipandu oleh Mrs. Wendy. Wah, ternyata susah juga ya, banyak yang salah niiy. Selepas dengerin lagu, dilanjutkan dengan diskusi bersama Mr. Muttaqin dari MPK PPM yang tetap dikemas dengan game-game menarik. Setelah puas mengeluarkan argumen, dilanjutkan dengan adictation (bener ga sih nulisnya) yang dipandu oleh Mrs. Wendy. Session ini ternyata bikin cape banget karena harus mengerahkan tenaga untuk lari bolak-balik. Saat banyak yang udah kecapean, Mr Kees kembali menyegarkan suasana dengan mengajak seluruh peserta bermain origami bikin Mr. Frog. Ketika hari beranjak siang, usai sudah rangkaian acara English Course Camp. Walaupun acara sudah selesai, tapi tetap speak English. Semua berjanji akan berusaha ngomong pake bahasa Inggris ketika ketemu untuk improve our English. Speak English, please!

May 03, 2008

Karena Bunda Perempuan

Ada suatu kisah tentang seorang bocah. Saat melihat bundanya menangis, ia bertanya kepada ayahnya mengapa bunda menangis. Ayahnya menjawab, "Karena bundamu perempuan." Bocah tersebut tidak puas dengan jawaban ayahnya sehingga ketidakpuasannya terbawa mimpi. Dalam mimpi, seolah-olah ia berdialog dengan Tuhan, maka Tuhan memberikan jawabannya :

"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula ia kerap menerima cerca dari anaknya.

Kuberikan pada wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan pada wanita perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan pada wanita kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan akhirnya kuberikan pada wanita air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepadanya agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita. Walau sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan.

Tulisan di atas diambil dari sebuah makalah diskusi dalam rangka memperingati Hari Ibu, "Mother, how are you today?"

Perempuan memang dikenal mudah mengeluarkan air mata. Perempuan mudah menangis. Tapi bukan berarti hanya perempuan yang bisa menangis. Laki-laki juga bisa menangis. Mengapa perempuan lebih mudah menangis? Tentu saja karena lebih peka perasaannya. Semua itu akibat pengaruh hormonal. Beberapa hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sangat berpengaruh terhadap tingkat emosi, ekspresi perasaan, perilaku, dan kecenderungan. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Female Brain, buku karangan seorang dokter yang mengupas perbedaan laki-laki dan perempuan dari tinjauan medis. Hampir serupa dengan yang dituliskan Ratna Megawangi dalam Membiarkan Berbeda, seorang feminis yang disebut konservatif karena mengakui bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, bahwa otaknya berbeda. Kalau aku tidak salah ingat, dalam buku itu disebutkan bahwa volume otak kecil laki-laki dan perempuan itu berbeda. Well, laki-laki dan perempuan itu memang diciptakan berbeda, tentu saja agar saling melengkapi. Akan tetapi, juga perlu diingat bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dikaruniai kemampuan berfikir agar mereka mampu memikirkan ciptaanNya, agar mereka mampu menjadi khalifah fil ardh. Kepekaan perasaan bukan halangan bagi perempuan untuk menjadi cerdas, untuk dapat menjadi pemimpin, untuk berkiprah di ranah publik. Seperti halnya 'Aisyah, ummul mukminin yang dikenal sangat cerdas dan kuat ingatannya. Atau seperti Hurrah Malikah bin Urwa bin Ahmad yang diberi amanah memimpin propinsi Yaman oleh Sultan Munthashir. Ataupun juga seperti Zubaidah, istri Khalifah Harun Al Rasyid yang memberi kontribusi pemikiran-pemikiran yang cemerlang untuk negara. Bagaimanapun seorang perempuan itu diciptakan, hal itu bukan halangan baginya untuk menjadi pelaku pencerahan bagi peradaban.

April 23, 2008

Ekstase Peringatan Kartini

Tanggal 21 April – saat memperingati Hari Kartini – sudah berlalu. Peringatan Hari Kartini tahun ini masih saja sama seperti tahun-tahun lalu, diidentikkan dengan busana daerah. Anak-anak TK riang gembira memamerkan pakaian adat yang mewakili seluruh penjuru nusantara. Tidak ketinggalan juga ibu-ibu berlomba dalam fashion show dengan tema busana daerah. Begitu pula instansi-instansi pemerintah mewajibkan pegawainya menggunakan busana daerah. Jadi inget waktu SMA saat semua murid dan guru harus datang ke sekolah menggunakan busana daerah. Aku ga suka banget saat itu. Mana harus upacara menggunakan busana daerah kemudian dilanjutkan dengan lomba-lomba yang menurutku sama sekali ga ada sangkut pautnya dengan spirit Kartini. Lomba putra-putri Pakci, ini sih semacam lomba modelling, ga nyambung banget deh. Lomba mewiru jarik (kain batik yang dipakai sebagai pakaian bawahan), bagus sih untuk melestarikan adat. Lomba menggambar foto Kartini, tetap ga nunjukin spirit Kartini. Lomba memasak untuk laki-laki, inikah makna emansipasi?

 

Emansipasi bermakna kebebasan, kemerdekaan. Kartini mempunyai keinginan untuk maju, keinginan untuk terus belajar, keinginan untuk bebas dari tradisi yang membelenggu. Kartini mengajarkan saudara-saudaranya untuk terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko bila berbicara diantara mereka agar Kartini dan saudara-saudaranya terbiasa berbicara dengan masyarakat awam. Sebagai anak bupati, Kartini diwajibkan menggunakan bahasa Jawa kromo bila berbicara dengan saudara-saudaranya. Peraturan itu ia langgar. Kartini adalah sosok perempuan Jawa yang cerdas dengan semangat belajar yang tinggi. Ia juga mengajarkan berbagai pengetahuan kepada perempuan-perempuan di sekitarnya, walaupun ia berada dalam pingitan. Ia pun tak pernah berhenti berusaha meneruskan pendidikannya hingga ke negeri Belanda. Walaupun akhirnya hanya mendapatkan ijin untuk melanjutkan pendidikan di Batavia. Sayangnya Kartini keburu dinikahkan dengan seorang bupati. Kalo menurut seorang teman, ada permainan sejarah ketika memilih Kartini sebagai icon perempuan Indonesia (Jawa) yang mempunyai spirit emansipasi. Bagaimanapun seorang perempuan itu berusaha, akhirnya ia akan menyerah pada keadaan. Mengapa tidak memilih perempuan-perempuan lain yang memang terbukti kiprah nyatanya pada bangsa Indonesia?, begitulah komentarnya.

 

Well, terserah pemikiran orang terhadap Kartini seperti apa. Menurutku yang lebih penting adalah bagaimana memaknai esensi peringatan Hari Kartini. Sekian tahun sudah peringatan Hari Kartini, sudahkah membawa perubahan yang berarti bagi perempuan Indonesia? Ketika banyak perempuan yang menuntut untuk diberi kesempatan dan ketika kesempatan itu sudah dibuka, sangat sedikit yang mempergunakannya. Memang sudah banyak perempuan-perempuan cerdas yang menduduki pos-pos penting dalam pengambilan kebijakan, tapi apakah mereka sudah berpihak pada kepentingan perempuan? Sementara perempuan-perempuan lndonesia lainnya bersusah payah mengantri untuk mendapatkan minyak goreng, dihimpit oleh harga bahan pangan yang kian melambung tinggi, angka buta huruf perempuan yang masih tinggi, dan berbagai permasalahan sosial lainnya. Era emansipasi saat ini, banyak perempuan yang cerdas hanya untuk dirinya sendiri, tak peduli akan kepentingan kaumnya, bebas melakukan apapun yang ia inginkan walau merampas hak orang lain sekalipun. Buktinya tindak kekerasan terhadap PRT (Pekerja Rumah Tangga) banyak dilakukan oleh majikan perempuan. Kapan ya perempuan-perempuan Indonesia ini bisa cerdas (cerdas otak dan hatinya). Ketika perempuan ga cerdas, mana bisa ia melahirkan generasi-generasi penerus yang mampu membawa perubahan bagi bangsa ini.

April 16, 2008

Melacak Sejarah Keluarga

Ga sia-sia 4 hari capek puter-puter Jawa Timur (Sidoarjo-Surabaya-Malang-Blitar), paling ga aku jadi lebih ngerti sejarah keberadaanku. Loh? Maksudnya sejarah keluarga gitchu. Hasil dari investigasi (ceile…) terhadap kakek nenekku yang tersebar dimana-dimana. Gini deh kalo punya kakek-nenek banyak banget. Kok bisa? Ya pokoke bisa! Ga usah dijelasin deh soale rumit banget ngejelasinnya.

 

Dari dulu aku ga pernah merasa aku adalah orang Jogja asli, walaupun lahir di Jogja (akte sih bilang gitu padahal RS AU berada di Sleman), tumbuh besar di

kota

Jogja, sekolah di Jogja, kuliah di Sleman, hidup di Jogja. Aku merasa sebagai keturunan orang Jawa Timur yang numpang lahir dan numpang hidup di Jogja. Bapak jelas-jelas orang Blitar dan ibu lebih suka disebut sebagai orang

Malang

walau nyata-nyata dibesarkan dan hidup di Jogja. Aku menemui kenyataan lain saat suatu ketika aku pergi ke Malang dan dengar cerita dari kakek-nenek di sana. Udah gitu ditambah dengan cerita dari bapak dan mbah putri yang tinggal di Bantul tapi baru aku dapatkan ceritanya saat di Sidoarjo kemarin. Sekarang aku baru merasa aku benar-benar orang Jogja.

 

Hmmm…tampaknya harus mulai mendongeng neeh. Seperti yang udah diceritain di atas kalo bapak adalah orang Blitar (lahir dan sekolah di Blitar, walau sempat juga sekolah di

Kediri

, dan kuliah serta hidup di Jogja). Dulu aku hanya mengetahui kalo nenek berasal dari Patalan, Jetis, Bantul (sempat kost di Kauman dan akhirnya hidup selamanya di Blitar) dan kakek berasal dari Gogourung, Kademangan, Blitar. Tapi setelah aku telusuri lebih jauh ternyata kakek dan nenek masih saudara. Yang lebih ngagetin lagi ternyata cikal bakal Dusun Gogourung adalah orang-orang Jogja yang eksodus ke

sana

. Aku udah tanya kemana-mana tapi ga ada yang tahu alasan pastinya kenapa pada pindah ke sana. Aku cuma dapat info kalo asal muasal Dusun Gogourung adalah orang-orang Jejeran, Pleret, Bantul. Katanya sih dulu pindahnya dipimpin oleh seorang kyai ke suatu tempat angker di daerah Blitar Selatan yang untuk menuju ke sana harus menyeberangi Sungai Brantas. Tempat itu sekarang menjadi Dusun Gogourung. Diberi nama demikian karena tiap ditanami gogo (padi) selalu ga bisa tumbuh. Dusun kakekku dikenal sebagai kampung santri yang aman dan bebas dari tindak kejahatan. Orang-orang kampung tersebut sebenarnya masih bersaudara. Dulu ada peraturan yang ga membolehkan orang kampung tersebut nikah dengan orang dari kampung lain. Sekarang sih ga begitu. Pantesan aja nenekku dulu ditipu ma kakek buyut diminta datang ke Blitar jenguk saudara eh tahunya malah dinikahkan ma kakek. Hehe kalo ga gitu ga bakalan ada aku tuh. Yach, akhirnya dapat disimpulkan kalo asal muasalnya keluarga bapak adalah dari Bantul. Kalo mo ditarik lebih atas lagi sampai asal kakek buyut yang dari nenek udah ga bisa kelacak deh. Rumah peninggalan yang merupakan sisa-sisa kejayaannya sebagai pedagang udah ambruk ga bersisa diguncang gempa 5,9 SR. Yang paling rumit ngelacaknya tuh saudara-saudara tirinya kakek yang katanya tinggal di Sulang, Jetis, Bantul. Kalo ga gara-gara gempa Jogja 2006 pastinya aku ga bakalan ketemu ma pakdhe yang sekarang tinggal di Ngawi, malahan bisa ga ngerti punya pakdhe di sana.

 

Lain keluarga lain pula ceritanya. Begitu juga dengan keluarganya ibu. Ibu tuh lahir di Malang dan menghabiskan masa kecilnya di Malang juga, tepatnya di kecamatan Turen yang katanya sih berasal dari nama orang Turian – yang menguasai daerah perdikan di wilayah tersebut. Ibu juga sempat hidup di Madiun dan akhirnya hidup di Jogja. Kakek yang mengabdi di Kopasgat (sekarang Paskhas) ga mau keluarganya selalu berpindah-pindah mengikuti dinas beliau sehingga membangun rumah di Jogja yang ga terlalu jauh dari Pangkalan AU, yaitu di Miliran, Umbulharjo. Kakek berasal dari Jetis, Saptosari, Gunungkidul. Daerah yang udah hampir mencapai puncak Gunungkidul. Dengar-dengar sih dulu leluhur kakek sering menuju kota Jogja dengan berjalan kaki dan sampai dalam waktu yang ga terlalu lama. Orang-orang jaman dulu emang hebat deh. Sedangkan nenek berasal dari kampung Jagalan, daerah depan Pasar Turen, Malang Selatan. Kalo keluarganya nenek masih bisa ditelusur sampe kakek canggah (kakeknya nenek). Kakek dan nenek buyut berasal dari Turen, tapi orang tuanya ada yang berasal dari daerah di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa Aran-aran. Katanya sih masih ada saudara yang tinggal di sana. Trus kakek canggah ternyata berasal dari Bagelen, Purworejo. Hehe kalo gini darahku ada Jawa Tengahnya juga. Yach, akhirnya kesimpulan terakhirnya adalah aku benar-benar asli orang Jawa yang lahir dan hidup di Jogja (ga tahu sampe kapan mo di Jogja neeh)