« A liar, number one liar | Main | Create The Happines »

Memperjuangkan Perempuan

Hari Perempuan Internasional, tanggal 8 Maret sudah sepekan lebih berlalu. Tapi, aku masih aja nyesel sudah melewatkan moment itu. Saat dengar teman-teman PSG Sleman dan NWI Djazman mau mengadakan aksi dalam rangka memperingati Hari Perempuan, aku seakan menemukan kembali semangatku. Teman-teman NWI juga sudah mengontakku untuk mengikuti aksi. Sabtu pagi, tanggal 8 Maret aku sudah prepare untuk berangkat ikut aksi yang rencananya dimulai dari depan UIN dan berakhir dengan happening art di Tugu. Hiks, sungguh sayang, aku ga diijinkan pergi oleh ibu. Yach, ga jadi berangkat deh. Aku jadi punya hutang orasi. Maafin aku teman-teman. Semoga aku bisa menebus hutangku di lain kesempatan.

 

Ibuku – seorang perempuan – ga mengijinkanku pergi untuk aksi memperingati Hari Perempuan. Bagi ibuku, mengikuti aksi tidaklah lebih penting dibanding aku menyelesaikan kewajibanku. Ah mengapa aku merasa ibu tidak memahamiku? Mom (panggilan sayangku terhadap ibu), ada yang harus kuperjuangkan di luar sana. Walaupun hanya sekadar membagikan bunga dan selebaran, bernyanyi, serta berteriak, tapi itu juga termasuk bentuk perjuangan. Perjuangan untuk menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli dengan nasib kaum kita, kaum perempuan. Sering kita dengar perempuan yang ditindas, perempuan yang diperdagangkan seolah merupakan barang tak berharga, perempuan yang dieksploitasi habis-habisan oleh kaum kapitalis, perempuan yang tak mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki, kekerasan terhadap perempuan, dan masih banyak lagi ketidakadilan yang terjadi terhadap perempuan. Semuanya nyata adanya terjadi di sekitar kita. Apakah kita hanya akan memejamkan mata dan menutup rapat-rapat telinga kita ketika mengetahui itu semua?

 

Aku sering melihat istri-istri yang harus bekerja keras dari pagi hingga malam menjelang, membanting tulang untuk mendapatkan uang demi menghidupi keluarganya. Belum lagi mereka masih harus mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Lalu dimanakah suami-suami mereka? Bukannya mereka tak ada. Mereka ada dan tinggal seatap bersama istri dan anaknya. Para suami itu adalah sosok yang sehat, kuat, mempunyai fisik yang sempurna, tapi mereka tak bekerja. Aktivitas kesehariannya adalah berjudi dan minum minuman keras. Mereka mampu bekerja tapi mereka tak ingin bekerja. Minuman keras rupanya sudah sangat meracuni otak mereka. Para istrilah yang harus bekerja keras menghidupi keluarga. Sementara suami tinggal menerima uang dari sang istri. Tak cukup hanya itu, bila uang yang diterima dirasa tidak cukup untuk membeli minuman keras dan pasang taruhan judi, suami-suami itu tak segan-segan melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya. Aku sama sekali ga ngerti dengan jalan fikiran perempuan-perempuan yang harus hidup seperti itu. Mengapa mereka rela menerima perlakuan seperti itu? Apa yang mereka harapkan? Apakah cinta dari suami mereka? Cinta seperti apa yang tega membiarkan istrinya menanggung beban hidup yang sedemikian beratnya? Cinta seperti apa yang ga segan-segan melakukan kekerasan terhadap istrinya? Mungkinkah perempuan-perempuan itu tidak ingin kehilangan figur ayah untuk anak-anaknya? Tapi ayah seperti apa yang tega menelantarkan anak-anaknya? Ayah seperti apa yang setiap hari hanya mengajarkan kemaksiatan, juga mengajarkan untuk ringan tangan? Ga heran ketika anak-anaknya akhirnya mengikuti jejak sang ayah terjun ke dunia hitam. Apa perempuan-perempuan itu terlalu takut dengan suami mereka? Mungkin mereka takut mendapat kekerasan fisik. Ah aku benar-benar ga ngerti dengan jalan fikiran perempuan-perempuan itu. Itu baru terjadi di satu kampung saja.

 

Beranjak ke kampung lain, keadaannya juga memprihatinkan. Di sana banyak perempuan-perempuan muda belia yang terjebak dalam 'rumah bordil' kelas atas. Aku sangat ga yakin pekerjaan itu yang mereka inginkan. Mereka pasti sudah terjebak dalam sindikat perdagangan perempuan. Mereka yang usianya belum genap 20 tahun tapi sudah harus menerjuni 'pekerjaan kotor'. Pernah aku melihat mereka bercanda dan tertawa serta saling berebutan bergelayut manja dengan sang majikan, tapi apakah itu mencerminkan hati mereka. Ketika melihatnya, aku bagaikan melihat anak-anak kecil yang berebutan memperebutkan kasih sayang seorang ayah. Jangan-jangan mereka merasa mendapatkan kasih sayang di sana. Kalaupun alasan mereka adalah uang, aku yakin ga akan memerlukan waktu lama untuk bisa mendapatkan uang banyak di sana. Konsumen mereka adalah high class. Mereka tinggal datang ke tempat yang konsumennya inginkan, melakukan pekerjaannya, dan pulang ke 'rumah' dalam keadaan kusut masai. Masyarakat pun sudah tak peduli dengan rumah terkutuk itu, apalagi aparat keamanan. Setiap bulannya mereka mendapat 'upeti' yang diantarkan langsung oleh pesuruh di rumah itu. Pesuruh yang berpakaian rapi HANYA ketika mengantarkan upeti. Pesuruh yang bangga bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi HANYA dengan bekerja menjadi seorang pesuruh. Pesuruh yang bangga setiap minggunya bisa menyisihkan pendapatannya sebesar sepuluh ribu rupiah untuk disumbangkan ke gereja. Ah, aku benar-benar ga ngerti dengan jalan fikiran orang-orang yang tinggal di 'rumah' itu. Paling ga mereka lebih beruntung dalam hal materi dibanding penghuni-penghuni kampung sebelahnya. Walaupun pekerjaan perempuan-perempuan itu sama, tetapi pendapatan mereka sungguh sangat berbeda. Mendapat kekerasan dari konsumen juga dianggap sebagai resiko pekerjaan. Ditipu konsumen dan ga dibayar adalah hal biasa. Padahal satu-satunya alasan mereka menerjuni pekerjaan itu adalah uang. Kecuali bagi perempuan-perempuan hiper yang pernah sangat terganggu psikisnya.

 

Ah mengapa banyak perempuan yang nasibnya kurang beruntung. Belum lagi perempuan-perempuan yang rela menyerahkan dirinya untuk dieksploitasi karena mereka ga sadar dirinya telah diperalat oleh kapitalisme. Setiap hari kita melihatnya dalam berbagai media. Dalam layar televisi, dalam lembaran buram surat kabar, juga dalam papan-papan yang berserakan di pinggir-pinggir jalan. Sungguh sangat bodohkah perempuan-perempuan kita? Atau karena mereka sekadar tidak sadar saja? Lalu siapakah yang akan mencerdaskan perempuan-perempuan itu? Siapa yang akan menyadarkan mereka kalau setiap diri yang merasa dirinya 'cerdas' dan 'sangat sadar' masa bodoh akan itu semua. Proses penyadaran memang bukan proses yang mudah untuk dilakukan. Perlu waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Perlu energi yang tidak bisa dibilang sedikit. Perlu usaha yang tampaknya hanya sia-sia belaka. Tapi, itu semua harus dilakukan. Harus dilakukan demi perempuan-perempuan kita. Untuk menyadarkan perempuan-perempuan itu, juga untuk menyadarkan laki-laki agar lebih peduli dengan nasib perempuan.

 

Mom, aku sangat menghormatimu karena nabi kita mengajarkan untuk menghormatimu, menghormatimu, dan menghormatimu. Tapi ijinkanlah aku melakukan sedikit sesuatu untuk perempuan-perempuan kita. Walaupun bila dilihat mungkin sangat ga berarti, tapi bukan berarti kita harus diam saja. Mom, jangan seperti mbah putri yang selalu menyuruhku untuk diam ketika aku melihat sesuatu yang tidak benar terjadi di depan mataku. Aku lelah diam. Aku ingin menyuarakan suara hatiku. Aku juga ingin perempuan-perempuan kita mampu menyuarakan suara hatinya. Aku tak ingin mereka hanya diam karena kita adalah manusia yang diberikan kemampuan untuk menyuarakan suara hati kita. Aku rindu berjuang bersama teman-temanku ibu. Aku janji akan menyelesaikan kewajibanku untukmu, tapi beri aku sedikit kesempatan untuk melakukan sedikit sesuatu untuk perempuan-perempuan kita. Teman-teman, aku rindu kalian. Aku rindu dengan diskusi-diskusi kita yang bisa membuat banyak orang menjadi merah mukanya. Mereka orang-orang yang ga terima dikatakan sebagai orang-orang yang ga sadar. Banyak hal yang masih belum kita lakukan, tapi akankah kita membiarkan waktu yang menyelesaikannya sehingga jerih payah kita menjadi tak berarti. Aku tak inginkan itu semua. Aku ingin kita tetap berjuang meski lelah mendera raga, otak, dan hati kita. Aku ingin kita tetap berjuang meski banyak kepentingan akan melibas kita. Aku benar-benar berterimakasih dengan teman-teman PSG dan NWI yang belum lelah untuk berjuang. Teman-temanku pastinya juga mengalami kelelahan yang sama. Btw, aku senang banget ketika baca koran yang memuat berita tentang aksi yang dilakukan teman-teman. Koordinator aksi peringatan hari perempuan itu adalah seorang laki-laki. Perjuangan memang kurang berarti ketika hanya perempuan sendiri yang membela nasib perempuan. Kesannya seakan-akan perempuan berjuang melawan penindasan yang dilakukan oleh laki-laki, padahal lawan sebenarnya adalah ketidakadilan, penindasan terhadap perempuan – baik itu dilakukan oleh laki-laki maupun oleh kaum perempuan sendiri. Jujur, aku sendiri sudah sangat lelah. Tapi kita harus tetap berjuang selama  penindasan masih terjadi dimana-mana. Perjuangan tak pernah henti. Fastabiqul khairat.

                            

Comments

Setiap yang tertindas memang butuh diperjuangkan, termasuk PEREMPUAN.Namun yang terpenting tetapi sering dilupakan sebagian aktivis pejuang perempuan adalah "MENGENALI SIAPA MUSUHNYA" dan "MEMAHAMI SIAPA KAWANNYA". aku lihat dalam tulisan ini dua hal itu belum terpetakan jelas.

makasih atas masukanny :)

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .