« Bad Feeling | Main | A liar, number one liar »

Nonton Bareng AAC

Senin malam kemarin, ada nuansa yang berbeda di bioskop 21 Amplaz. Menjelang pukul 7 malam, 21 dipenuhi oleh bapak-bapak Muhammadiyah dan ibu-ibu Aisyiyah. Ga mau kalah dengan bapak dan ibunya, angkatan muda juga turut hadir di sana. Tampak pula beberapa rombongan keluarga beserta anak-anaknya, dari yang masih balita sampai yang sudah dewasa. Malam itu keluarga besar Muhammadiyah punya gawe nonton bareng Ayat-ayat Cinta (AAC). Acara yang diprakarsai teman-teman web muhammadiyah.or.id ini bisa dibilang cukup sukses. Antusiasme warga Muhammadiyah untuk mengikuti acara ini cukup besar. Seluruh tiket sold out. Terpaksa deh banyak yang ga bisa ikutan nonton bareng. Alhamdulillah ga rugi booking 1 studio wide screen dengan kapasitas 310 seat. Padahal sebelumnya sudah takut aja kalau-kalau ga bisa jual tiket sampai 200 seat, bisa nombok tuh. Dari manajemen 21 kasih jatah minimal 200 seat. So, ketika ga sampai 200 seat tetap aja harus bayar 200 seat. Untungnya sih tiket bisa sold out, ga jadi rugi deh. 

 

Sebelum film mulai tayang, Pak Budi Setiawan, ketua LPI PP Muh punya ide untuk mengawalinya dengan menyanyikan Mars Muhammadiyah. Hehe, tapi karena situasi ga memungkinkan ya udah deh langsung nonton aja. Tepat pukul 19.15, AAC ditayangkan. Sayang, ga bisa langsung khusuk nikmatin film. Ada beberapa orang yang mondar-mandir nyari seatnya. Tampaknya emang ada yang salah nempatin seat, ga sesuai dengan tiket gitu. Maklum, banyak yang bukan penonton asli bioskop. Yach, sedikit gangguan kecil ga mengurangi esensi kenikmatan nonton bareng.

 

Seperti yang sudah diceritakan Hanung Bramantyo, sutradara AAC pada acara bincang-bincang tentang AAC di aula PP Ahmad Dahlan seminggu sebelumnya, film ini memang berbeda dengan novelnya. Tidak mudah memang memindahkan novel ke dalam sebuah film. Harry Potter dan Eragon saja berbeda antara novel dengan filmnya. Bagi yang sudah pernah membaca novel AAC, setelah melihat filmnya pasti akan bilang filmnya ga bagus. Yach, semua novel yang dipindahkan ke film selalu bernasib seperti itu. Ketika membaca novel orang akan mudah membayangkan sesuatu sesuai dengan alam fikirannya. Tidak mudah memvisualisasikan cerita dalam novel. Kalau kata Hanung, pada proses pembuatan AAC bukan kreatifitas lagi yang dikedepankan, tapi proses mengakali. Bagaimana membuat sebuah tempat di Semarang seolah-olah sebuah pasar di Mesir lengkap dengan untanya. Bagaimana membuat India seolah-olah adalah Mesir beserta sungai Nilnya. Andai AAC bisa dibuat di Mesir dengan nuansa Nil yang eksotis, pasti keren banget deh. Sayang, costnya terlalu mahal. Tapi, bukan Hanung kalau ga bisa mengakalinya.

 

Pada film AAC, sosok Fahri dibuat menjadi ga perfect. Fahri adalah pribadi yang rapuh ketika menghadapi berbagai cobaan, yang ga bisa ikhlas menerima semua yang terjadi padanya, yang kadang lupa menjaga pandangan, yang lupa harus berlaku 'adil' kepada istri-istrinya. Sebaik dan sesholeh apapun Fahri, ia tetaplah manusia biasa yang ga lepas dari kekurangan. Beda banget kan dengan novelnya. Hehe, kalau tahu sosok Fahri jadi seperti ini, teman-teman saat KKN dulu tentunya ga bakal berebutan bercita-cita menjadi seorang Fahri. Sebagai film religius (kata khalayak umum, Hanung sendiri tidak menyebutnya demikian), AAC ga lepas dari kritik atas masalah-masalah yang dikatakan syar'i. Masalah Aisha yang ga pakai kaos kaki, Aisha yang shalat dengan tetap memakai cadar, juga masalah Maria yang mengucapkan salam. Semua sudah dijawab Hanung pada diskusi dadakan di PP Ahmad Dahlan seminggu yang lalu.

 

Lepas dari kekurangan AAC, film ini sudah memberi fenomena tersendiri bagi dunia perfilman Indonesia. AAC mampu membawa orang-orang yang bukan penonton asli bioskop untuk nonton ke bioskop. Kabarnya sih jumlah penontonnya sekarang sudah mencapai 1,7 juta. Banyak bioskop yang harus membuka 2 layar untuk film ini. Sampai saat ini juga masih terjadi antrean panjang untuk mendapatkan tiket nonton AAC. Yang parah waktu premier, banyak yang kehabisan tiket sebelum sempat mengantri (hehe pengalaman pribadi). Orang-orang Malaysia dan Singapura bahkan rela pergi ke Batam hanya untuk nonton AAC. Yang sangat ironis adalah munculnya nonton bareng AAC di berbagai tempat (termasuk masjid) dalam versi bajakan yang notabene masih rough editing. Semoga mereka yang nonton bajakan diberikan kesadaran bahwa mereka sudah mendholimi orang lain. Ukuran kesuksesan film adalah ketika film tersebut mampu mendatangkan banyak penonton ke bioskop, bukan dari penjualan DVD, dan tentunya bukan dilihat dari berapa banyak orang yang berusaha mendapatkan bajakannya. So, ketika penonton film religius sedikit, ga ada lagi produser yang mau membiayai film-film bertema religius. Ga bakalan ada film religius lagi. Makanya jangan nonton bajakan. Pembajak terus bermunculan karena mereka punya pasar, karena ada demand. Jangan bangga karena sudah nonton bajakan. Stop piracy! Yang pada ga kebagian tiket nonton bareng, antri sendiri di 21 ya. Semoga kebagian tiket.

                            

Comments

AYAT-AYAT CINTA
LUAR BVIASA CERITANYA..
MERUPAKAN NOVEL ANAK BANGSA YANG SUNGGUH LUAR BIASA..
WALAU FILMNYA TAK SESEDIH YANG DI NOVEL..TAPI FILM INI TETAP SEDIH DAN..
BUAT KITA BISA TAHU TENTANG BAGAIMANA ISLAM DAN MEMBERIKAN PENGERTIAN BAHWA ISLAM ITU CINTA DAMAI..DAN POLIGAMI HALAL BAGI ISLAM BERDASARKAN ALQURAN DAN HADIST..JADI SIAP YANG MENGATAKANNYA HARAM..MAKA IA MENENTANG HUKUM ALLAH SWT ASALKAN SANG PRIA DAPAT BERBUAT ADIL LAHIR DAN BATHIN BAGI ISTERI-ISTERINYA..
DAN JANGAN TONTON FILM BAJAKAN..TONTONLAH DIBIOSKOP
I LOV FILM INDONESIA

MAJU TERUS PERFILMAN INDONESIA
SEMGA AAC M,ENJADI FILM YANG TERLARIS TAHUN INI..

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .