It's About My Interest
Tiap orang pasti punya interest yang berbeda-beda. Begitu juga aku. Menurutku, interest itu bisa berubah-ubah. Ini sesuai dengan pengalaman pribadi loh. Yach, selama beberapa waktu ini aku merasa banyak banget yang berubah dalam hidupku, termasuk masalah interest ini. Ternyata semuanya berhubungan dengan cara kita mengekspresikan perasaan. Ketika aku kehilangan tempat yang biasa aku gunakan utuk mengekspresikan perasaan, aku pun kacau banget. Aku butuh tempat berkspresi! Aku kemudian berusaha mencari penggantinya. Mencari wahana yang bisa aku gunakan untuk mengekspresikan seluruh perasaan dan jiwaku. "Apa gunanya hidup tanpa bisa berekspresi?", pikirku saat itu.
Aku kemudian menekuni hobi lamaku, membaca. Yach, dengan membaca aku merasa menemukan dunia lain yang diciptakan oleh si penulis buku. Tapi itu semua tak lebih seperti air yang ditumpahkan ke gurun pasir, menghilang dalam sekejap. Jiwaku masih saja meletup-letup. Rasaku ingin terbuncah keluar. Ragaku tak sanggup lagi membendungnya. "Aku butuh tempat berekspresi!", teriakku dalam hati. "Huh, untuk teriak aja ga bisa", batinku sebal. Saat kesal membelenggu diri, tiba-tiba mataku terpaut pada sebuah kertas tipis di atas meja komputerku. Sebuah pembatas buku berwarna hitam, produk eksklusif dari Rifka Annisa. Di atasnya tercetak huruf berwarna-warni nan berderet rapi, gradasi warna hijau dan merah. "STOP SILENT, TELL WHAT TOU FEEL". Begitulah bunyi deretan huruf itu. "Benar juga!", pikirku. Aku ga boleh diam terus, aku harus mengatakan apa yang aku rasakan! Otakku berputar kencang. Aku bukan orang yang mampu menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku pikir dengan kalimat verbal yang tertata dengan baik dan rapi. Kadangkala kemampuan verbalku diuji. Yeah, suatu kesempatan bagus untuk melatihnya. Tapi tetap saja itu semua tak dapat menampung seluruh ekspresi jiwaku. "Aku butuh sesuatu yang lain", aku meyakinkan diri. Toh ekspresi tidak harus diverbalkan.
Karena sering membaca majalah mode, aku pun mulai interest dengan dunia mode, terutama desain. Aku mulai banyak mendapat inspirasi tentang desain-desain pakaian yang ready-to-wear dan pernak-perniknya. Buku kuno terbitan Amrik warisan nenekku turut menyumbang inspirasi ide yang cukup besar. Tapi, aku punya kendala. Aku bego banget masalah gambar. Aku kesulitan menuangkan ide-ideku ke dalam gambar. Walapun aku pernah mendapat juara III lomba gambar tingkat SD se-kecamatan, gambar-gambar desainku ga bagus. Entahlah kenapa dulu aku bisa mendapat juara. Beberapa saat yang lalu (sebelum gedung SDku direnovasi), gambar yang aku buat 11 tahun yang lalu itu masih terpajang di dindingnya. Sebuah gambar yang melukiskan prajurit kraton yang menandu gunungan, sementara banyak orang sudah menantikan untuk memperebutkannya. Gambar yang aku buat dengan lembur selama semalam itu dibingkai dengan kayu yang divernis mengkilat, digantung di dinding SDku selama bertahun-tahun. Benar-benar ga nyangka sebegitunya guru-guruku menghargai karyaku. Ironis banget dengan aku yang saat ini merasa ga bisa gambar!
Walau punya kendala untuk menuangkan ide ke dalam gambar, aku tetap interest dengan dunia desain. Tapi kali ini beralih ke dunia bead-art. Aku beli buku-buku yang berkaitan dengan bead-art. Aku juga mulai hunting desain pernak-pernik dari bead yang paling baru. Aku juga betah berjam-jam ngendon di toko yang menjual perangkat bead-art sekadar melihat desain bead keluaran terbaru, bead yang berwarna-warni, dan swarovski yang berkilauan. Sayangnya, hobi ini butuh ekstra money. Kebanyakan bead harus dibeli dengan batas jumlah gram tertentu. Kalau just hobi buat tapi males ngejual ya rugi deh. Apalagi kalau buat yang ga bisa dijual, tambah-tambah rugi bo'. Pada saat yang bersamaan aku mulai tertarik dengan japanese painting. Gara-gara keseringan baca komik kalee ya. Kalau interest yang satu ini just untuk dinikmati aja deh.
Aku merasa belum bisa mengekspresikan diriku. Karena itu, aku belajar menulis. Dengan dorongan beberapa orang, dipaksa keadaan, plus obsesi pribadi, aku mulai menulis. Aku belajar menuliskan semua hal yang memenuhi otakku, mengurainya perlahan, mencerabutnya sedikit demi sedikit hingga menjadi susunan kata-kata yang berjajar rapi dan seringkali aku ga pede menuliskannya. Jadilah blogku yang selama ini ga keurus dipenuhi oleh permainan kata-kataku. Anehnya aku jadi hobi mempermainkan kata. Hal yang selama ini aku tinggalkan dan dulu juga jarang aku lakukan, just keisengan kecil kala bete dengerin kuliah. Hasilnya pun ga ada yang aku simpan. Aku menganggapnya sekadar corat coret ga berarti. Aku seringkali membuangnya. Aku menumpahkan seluruh kekesalan, kesedihan, dan kemarahan dengan menjebak kata-kata dalam sebuah permainan. Dengan membuangnya, aku merasa kekesalan, kesedihan, dan kemarahanku ikut terbuang bersamanya. Saat ini aku tertarik lagi mempermainkan kata-kata. Mungkin memang itulah ekspresi jiwaku. Permainan kata-kataku ternyata membuat beberapa orang yang merasa cukup mengenalku shock. "Ga nyangka kamu bisa menuliskannya", begitulah rata-rata komentar mereka. Well, saat ini aku suka menulis. Apalagi sejak mendapat amanah mengurus berita web Nasyiah. Mau ga mau harus belajar menulis berita. Ketika sempat merasa ga mampu, aku berusaha meyakinkan diri. "Masa aku yang sedari kecil selalu berebut koran dengan bapak di pagi hari ga bisa nulis berita sih? Tiap hari aku kan baca berita!", yakinku. Jadilah saat ini aku sering menulis. Aku ingin suatu saat bisa menulis cerpen, novel, juga skenario. Sayang aja sudah ikutan pelatihan penulisan skenario. Hehe padahal ikutnya cuma sepintas lalu karena sembari ngurus posko banjir. Yach, untuk keinginanku yang ini, sepertinya aku harus meng-upgrade daya khayalku deh. Mungkin suatu saat nanti. Sekarang mending menulis apa yang memang harus aku tulis. Yach, paling ga untuk menyelesaikan kewajiban.

kereN ma tulisanmu :) ur smaRt gIrL..sejak SMU bukanya klo urusan2 kata2 aku sering minta pendapatmu? terus nulis y ma!! miss u :)
Posted by: faza | June 2, 2008 10:28 PM
waduh aq ko ga inget pas SMU aq gt.
Posted by: ima | June 9, 2008 04:59 AM