Karena Bunda Perempuan
Ada suatu kisah tentang seorang bocah. Saat melihat bundanya menangis, ia bertanya kepada ayahnya mengapa bunda menangis. Ayahnya menjawab, "Karena bundamu perempuan." Bocah tersebut tidak puas dengan jawaban ayahnya sehingga ketidakpuasannya terbawa mimpi. Dalam mimpi, seolah-olah ia berdialog dengan Tuhan, maka Tuhan memberikan jawabannya :
"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula ia kerap menerima cerca dari anaknya.
Kuberikan pada wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan pada wanita perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan pada wanita kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan akhirnya kuberikan pada wanita air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepadanya agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita. Walau sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan.
Tulisan di atas diambil dari sebuah makalah diskusi dalam rangka memperingati Hari Ibu, "Mother, how are you today?"
Perempuan memang dikenal mudah mengeluarkan air mata. Perempuan mudah menangis. Tapi bukan berarti hanya perempuan yang bisa menangis. Laki-laki juga bisa menangis. Mengapa perempuan lebih mudah menangis? Tentu saja karena lebih peka perasaannya. Semua itu akibat pengaruh hormonal. Beberapa hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sangat berpengaruh terhadap tingkat emosi, ekspresi perasaan, perilaku, dan kecenderungan. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Female Brain, buku karangan seorang dokter yang mengupas perbedaan laki-laki dan perempuan dari tinjauan medis. Hampir serupa dengan yang dituliskan Ratna Megawangi dalam Membiarkan Berbeda, seorang feminis yang disebut konservatif karena mengakui bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, bahwa otaknya berbeda. Kalau aku tidak salah ingat, dalam buku itu disebutkan bahwa volume otak kecil laki-laki dan perempuan itu berbeda. Well, laki-laki dan perempuan itu memang diciptakan berbeda, tentu saja agar saling melengkapi. Akan tetapi, juga perlu diingat bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dikaruniai kemampuan berfikir agar mereka mampu memikirkan ciptaanNya, agar mereka mampu menjadi khalifah fil ardh. Kepekaan perasaan bukan halangan bagi perempuan untuk menjadi cerdas, untuk dapat menjadi pemimpin, untuk berkiprah di ranah publik. Seperti halnya 'Aisyah, ummul mukminin yang dikenal sangat cerdas dan kuat ingatannya. Atau seperti Hurrah Malikah bin Urwa bin Ahmad yang diberi amanah memimpin propinsi Yaman oleh Sultan Munthashir. Ataupun juga seperti Zubaidah, istri Khalifah Harun Al Rasyid yang memberi kontribusi pemikiran-pemikiran yang cemerlang untuk negara. Bagaimanapun seorang perempuan itu diciptakan, hal itu bukan halangan baginya untuk menjadi pelaku pencerahan bagi peradaban.

Comments